Proyek Pelindian Tumpukan Natrium Sianida dari Bijih Emas Teroksidasi di Senegal

Proyek Pelindian Tumpukan Natrium Sianida dari Bijih Emas Teroksidasi di Senegal Proses pelindian tumpukan bijih emas sianida Natrio cianidas yang teroksidasi, laju sianidasi kadar residu lumpur utuh No. 1, gambar

Tambang emas di Senegal adalah tambang emas dengan kadar rendah bijih emas teroksidasi dengan kadar emas 2.49 g/t. Penelitian laboratorium dilakukan dengan menggunakan proses pencucian tumpukan. Efek parameter proses seperti ukuran partikel bijih, jenis dan dosis agen pelindian, waktu pelindian, serta jenis dan dosis oksidan tambahan pada ekstraksi emas diteliti. Kondisi optimal ditentukan, mencapai laju pelindian emas sebesar 89.57% dan kadar emas dalam residu pelindian sebesar 0.26%. Hasil ini memberikan dasar teknis yang andal untuk pengembangan dan pemanfaatan bijih ini secara rasional.

1. Sifat Bijih

Kadar emas bijih mentah adalah 2.49 g/t, yang merupakan unsur utama yang dapat diperoleh kembali. Kadar perak adalah 4.26 g/t, dengan kandungan yang relatif rendah. Komponen pengotor utama dalam bijih adalah SiO₂, diikuti oleh sejumlah kecil Al dan Fe. Komponen berbahaya utama adalah arsenik, dengan kadar arsenik sebesar 0.68%. Kadar unsur lainnya relatif rendah. Mineral logam utama dalam bijih adalah limonit, dan mineral sulfida sangat langka, terutama pirit. Mineral pengotor terutama adalah kuarsa, feldspar, dan mineral lempung.

Tambang emas ini merupakan bijih teroksidasi yang mengalami pelapukan kuat dengan struktur lepas, sebagian besar berupa partikel pecah dan tanah. Identifikasi petrografi menunjukkan bahwa sebagian besar pirit dalam bijih tersebut terdapat dalam bentuk butiran euhedral, tertanam dalam kuarsa, feldspar, dan klorit. Ukuran partikelnya relatif halus, umumnya berkisar antara 0.02 hingga 0.4 mm. Limonit muncul sebagai pseudomorf pirit atau limonit koloid yang terbentuk oleh kondensasi larutan besi hidroksida yang dicampur dengan sejumlah kecil mineral lempung silikat, mengisi retakan mineral gangue. Kuarsa terutama terdapat sebagai kuarsa kalsedon metakoloid, dengan sebagian besar ukuran partikel berkisar antara 0.02 hingga 0.15 mm. Feldspar berbentuk butiran atau agregat tidak beraturan, dengan ukuran partikel 0.02 hingga 0.3 mm. Mineral emas dalam bijih ini memiliki ukuran partikel yang relatif halus, tergolong emas berbutir halus -0.001 mm.

2. Metode Pengujian

Bijih mentah yang telah dihaluskan hingga ukuran partikel tertentu dituang ke dalam tong silinder berisi batuan dasar. Perbandingan cairan dan padatan ditetapkan sebesar 1.5:1. Kapur ditambahkan untuk mengatur nilai pH agar lebih besar dari 11. Sodium sianida ditambahkan. Pelindian dilakukan pada suhu kamar selama periode tertentu. Setelah pengujian, pulp dituang keluar untuk pemisahan padat-cair. Kandungan emas dalam residu pelindian dan konsentrasi emas dalam larutan yang mengandung emas dianalisis, dan laju pelindian emas dihitung.

3. Hasil Uji dan Analisis

Berdasarkan karakteristik sifat bijih mentah, dilakukan perbandingan antara dua skema pengujian: pengujian lumpur utuh sianidasi pencucian dan pelindian timbunan. Kondisi uji untuk sianidasi lumpur utuh adalah sebagai berikut: kehalusan penggilingan -0.074 mm 95%, rasio cairan-padat 3:1, pengadukan mekanis, dan waktu pelindian 24 jam. Kondisi uji untuk pelindian timbunan adalah sebagai berikut: ukuran partikel bijih -10 mm, rasio cairan-padat 1.5:1, dan waktu pelindian 72 jam.

Dengan menggunakan proses pelindian tumpukan, laju pelindian emas adalah 70.89%. Dengan menggunakan proses sianidasi lumpur utuh, laju pelindian emas sedikit meningkat menjadi 74.05%. Dengan mempertimbangkan biaya produksi secara komprehensif, proses pelindian tumpukan diadopsi dalam pengujian untuk memperoleh emas.

4. Kesimpulan

(1) Bijih emas merupakan bijih teroksidasi yang terbentuk melalui pelapukan, dengan kadar emas 2.49 g/t, terutama emas berbutir halus -0.001 mm. Bijih ini cocok untuk diolah melalui proses pencucian sianidasi.

(2) Melalui pengujian kondisi pelindian tumpukan, ditentukan parameter proses pelindian tumpukan optimal sebagai berikut: ukuran partikel bijih -20 mm, Natrium Sianida dosis 2.0 kg/t, dosis kalsium peroksida 4.0 kg/t, dan waktu pelindian 10 hari. Indeks pemisahan yang dicapai adalah laju pelindian emas sebesar 89.57% dan kadar emas dalam residu pelindian sebesar 0.26%.

Akhirnya, pelanggan mengakui hasil pengujian kami. Setelah berkomunikasi dengan pelanggan, sampel dikirim, dan serangkaian uji pemurnian dilakukan. Melalui analisis komparatif, alur proses yang sesuai dengan situasi sebenarnya akhirnya disesuaikan untuk proyek pelindian tumpukan ini.

Saat ini, proyek tersebut berjalan dengan pesat. Dalam beberapa bulan, pabrik pelindian timbunan akan selesai.

Proyek pelindian tumpukan bijih emas teroksidasi di Senegal telah memainkan peran positif dalam mendorong pengembangan tambang emas di Senegal. Seluruh proses proyek ini, mulai dari penelitian uji pemurnian, desain lapangan, kedatangan peralatan, pemasangan dan komisioning, pelatihan pekerja, hingga pengoperasian pabrik pelindian tumpukan, merupakan tanggung jawab United Chemical Industri dan telah mencapai standar produksi.

Untuk saran yang lebih profesional? Hubungi kami!

Anda juga mungkin menyukai

Konsultasi pesan online

Tambahkan komentar:

+8617392705576Kode QR WhatsAppKode QR TelegramPindai kode QR
Tinggalkan pesan untuk konsultasi
Terima kasih atas pesan Anda, kami akan segera menghubungi Anda!
Kirim
Layanan Pelanggan Online